Tak terikat hingar bingar kehidupan kota. Part 2

Sabtu, Mei 21, 2016 Unknown 0 Comments



Bermain kala itu sangat menyenangkan. Rutinitas sepulang sekolah, apalagi kalau hari sabtu, akan menjadi ‘main-di-rumah-nanang’ atau nama lainnya ‘makan-gratis-di-rumah-nanang’. Maka gue dan sepasukan anak-anak ingusan lainnya bergerombol dan berbaris untuk pergi ke rumah Nanang.
Untuk mencapai rumah Nanang, ada kurang-lebih tiga rute. Entah setan apa yang merasuki kami waktu itu sehingga memutuskan untuk memilih jalan yang paling jauh. Jalan itu melewati pematang sawah, dan setelah sawah yang maha-luas itu kami akan masuk ke daerah kolam pancing yang indah.
Waktu itu, seperti biasa hari cukup terik, kebetulan gue dan teman-teman baru aja beres olahraga. Inilah saat kami sedang bau-baunya, dan kami semua akan pergi ke rumah Nanang dengan satu misi: membuat keluarga Nanang jatuh pingsan karena kebauan kemudian menjarah hartanya sampai habis, huahaha.
Di perjalanan, kami semua berkicau dan ngobrolin hal ga jelas. Semua ga terasa sampai tibalah waktu yang mendebarkan. Saatnya melewati pematang sawah.
Ketika itu, sawah baru aja akan dipergunakan kembali, tanahnya sedang digemburkan dan diisi air lagi. Gue dan temen-temen masih tetap ceria tertawa dan berdendang. Ada juga yang joget dan dangdutan. Asoy.
Sampai ketika.. ada celah yang melintang diantara pematang sawah. Jalan kami seperti terpisahkan oleh jurang yang luas. Padahal lebarnya paling 100 cm. Tapi waktu gue kecil, sungguh tidak berdaya tubuh ini untuk melewatinya. Satu per satu temen-temen gue loncat dan berhasil. Terinspirasi dari temen-temen gue, gue mengumpulkan kepedean untuk meloncat.
Tapi apa daya, entah kaki gue menjadi lebih panjang atau celah-pinggiran-antar-sawah-yang-lebarnya-100-cm-an ini menjadi lebih pendek? Mungkin tanahnya ga suka mau gue loncatin dan dia bergetar-getar menghindar? gue masih ga paham. Gue berhasil loncat tapi terpeleset karena tanah tempat kaki gue mendarat tidak stabil. Gue pun dengan sukses terjatuh ke sawah yang penuh lumpur.
Air yang bercampur dengan lumpur merembes dan membasahi badan gue perlahan-lahan. Gue pun lepek. Kalau ada musuh gue mungkin inilah saat yang mereka tunggu. Mereka akan datang dan menyobek gue seperti kertas basah. Entah apa yang gue pikirkan waktu itu, gue merasa sangat damai di hari yang panas karena lumpur tersebut sangat menyegarkan. Hati gue tentram, tidak terikat oleh dunia. Terlepas dari hingar-bingar kehidupan kota.
Ehm.
Temen-temen gue segera menertawakan. Setelah puas tertawa, mereka membantu gue untuk bangkit. Sungguh, seperti itulah yang namanya teman sejati. Temen kesusahan -> tertawakan -> tolongin. Begitulah alur penyelamatan oleh teman sejati. Heroik.
Kemudian teman-teman membantu gue bangkit. Kami pun tertawa bersama-sama, walaupun dalem hati gue agak kesel dan malu abis. Lalu kami melanjutkan perjalanan, dan sampailah di rumah Nanang. Di sana, seperti biasa ada makanan dan game, seperti biasa juga ada canda tawa, dan pastinya ada bahagia.
Gue dan temen-temen selalu mengulang kegiatan tersebut (kecuali jatuh ke sawah) sebisa mungkin. Main sesering mungkin dan ga ada bosen-bosennya. Tiba-tiba saja kami ada di penghujung kelas lima dan sebentar lagi gue dan teman-teman akan naik ke kelas enam. Sangat menyenangkan. Tapi ada yang aneh, Nanang sudah jarang sekolah. Gue heran, tapi kata vickry dia sedang sakit. Pernah gue dan teman-teman ingin menjenguk dia tapi gue lupa alasannya, sampe kami ga pernah merealisasikannya.
Tidak lama, ketika kami akan benar-benar menjenguknya Vickry berkata ‘Nanang udah pindah’, gue pun heran. Sepertinya gue pernah diberitahu bahwa Nanang akan pindah dalam waktu dekat, tapi tetap saja gue kaget dan ga menyangka bahwa akan secepat itu dia pindah. Gue ga tau kenapa dia harus pindah, tapi itu lah yang terjadi. Sisa satu tahun di SD gue habiskan dengan bermain bersama-sama teman yang lainnya dan menjalani hidup seperti biasa.

Beberapa tahun setelah kepindahan nanang itu, gue coba cari Nanang lewat Facebook. Gue merasa, Karena ngetrend harusnya semua orang punya Facebook. Keyword seperti ‘Nanang’, ‘Nananq’ sampai ‘N4nAnG5eH4tcElLaluh’ gue coba. Tapi gue ga pernah menemukan sosok Nanang di Facebook. Rumah kontrakan Nanang pun sekarang gue liat udah dihancurkan, karena digantikan bangunan yang lain. Begitupun lapangan yang biasa dipakai bermain. Entah apa yang terjadi sama kebun belakang rumahnya, tapi gue rasa semuanya juga sudah sama sekali berubah. Yang tersisa sekarang adalah ingatan-ingatan gue yang sedikit kabur, dan kenangan-kenangan yang memudar.

0 komentar: