Tampilkan postingan dengan label Serba-serbi. Tampilkan semua postingan

Tak terikat hingar bingar kehidupan kota. Part 2



Bermain kala itu sangat menyenangkan. Rutinitas sepulang sekolah, apalagi kalau hari sabtu, akan menjadi ‘main-di-rumah-nanang’ atau nama lainnya ‘makan-gratis-di-rumah-nanang’. Maka gue dan sepasukan anak-anak ingusan lainnya bergerombol dan berbaris untuk pergi ke rumah Nanang.
Untuk mencapai rumah Nanang, ada kurang-lebih tiga rute. Entah setan apa yang merasuki kami waktu itu sehingga memutuskan untuk memilih jalan yang paling jauh. Jalan itu melewati pematang sawah, dan setelah sawah yang maha-luas itu kami akan masuk ke daerah kolam pancing yang indah.
Waktu itu, seperti biasa hari cukup terik, kebetulan gue dan teman-teman baru aja beres olahraga. Inilah saat kami sedang bau-baunya, dan kami semua akan pergi ke rumah Nanang dengan satu misi: membuat keluarga Nanang jatuh pingsan karena kebauan kemudian menjarah hartanya sampai habis, huahaha.
Di perjalanan, kami semua berkicau dan ngobrolin hal ga jelas. Semua ga terasa sampai tibalah waktu yang mendebarkan. Saatnya melewati pematang sawah.
Ketika itu, sawah baru aja akan dipergunakan kembali, tanahnya sedang digemburkan dan diisi air lagi. Gue dan temen-temen masih tetap ceria tertawa dan berdendang. Ada juga yang joget dan dangdutan. Asoy.
Sampai ketika.. ada celah yang melintang diantara pematang sawah. Jalan kami seperti terpisahkan oleh jurang yang luas. Padahal lebarnya paling 100 cm. Tapi waktu gue kecil, sungguh tidak berdaya tubuh ini untuk melewatinya. Satu per satu temen-temen gue loncat dan berhasil. Terinspirasi dari temen-temen gue, gue mengumpulkan kepedean untuk meloncat.
Tapi apa daya, entah kaki gue menjadi lebih panjang atau celah-pinggiran-antar-sawah-yang-lebarnya-100-cm-an ini menjadi lebih pendek? Mungkin tanahnya ga suka mau gue loncatin dan dia bergetar-getar menghindar? gue masih ga paham. Gue berhasil loncat tapi terpeleset karena tanah tempat kaki gue mendarat tidak stabil. Gue pun dengan sukses terjatuh ke sawah yang penuh lumpur.
Air yang bercampur dengan lumpur merembes dan membasahi badan gue perlahan-lahan. Gue pun lepek. Kalau ada musuh gue mungkin inilah saat yang mereka tunggu. Mereka akan datang dan menyobek gue seperti kertas basah. Entah apa yang gue pikirkan waktu itu, gue merasa sangat damai di hari yang panas karena lumpur tersebut sangat menyegarkan. Hati gue tentram, tidak terikat oleh dunia. Terlepas dari hingar-bingar kehidupan kota.
Ehm.
Temen-temen gue segera menertawakan. Setelah puas tertawa, mereka membantu gue untuk bangkit. Sungguh, seperti itulah yang namanya teman sejati. Temen kesusahan -> tertawakan -> tolongin. Begitulah alur penyelamatan oleh teman sejati. Heroik.
Kemudian teman-teman membantu gue bangkit. Kami pun tertawa bersama-sama, walaupun dalem hati gue agak kesel dan malu abis. Lalu kami melanjutkan perjalanan, dan sampailah di rumah Nanang. Di sana, seperti biasa ada makanan dan game, seperti biasa juga ada canda tawa, dan pastinya ada bahagia.
Gue dan temen-temen selalu mengulang kegiatan tersebut (kecuali jatuh ke sawah) sebisa mungkin. Main sesering mungkin dan ga ada bosen-bosennya. Tiba-tiba saja kami ada di penghujung kelas lima dan sebentar lagi gue dan teman-teman akan naik ke kelas enam. Sangat menyenangkan. Tapi ada yang aneh, Nanang sudah jarang sekolah. Gue heran, tapi kata vickry dia sedang sakit. Pernah gue dan teman-teman ingin menjenguk dia tapi gue lupa alasannya, sampe kami ga pernah merealisasikannya.
Tidak lama, ketika kami akan benar-benar menjenguknya Vickry berkata ‘Nanang udah pindah’, gue pun heran. Sepertinya gue pernah diberitahu bahwa Nanang akan pindah dalam waktu dekat, tapi tetap saja gue kaget dan ga menyangka bahwa akan secepat itu dia pindah. Gue ga tau kenapa dia harus pindah, tapi itu lah yang terjadi. Sisa satu tahun di SD gue habiskan dengan bermain bersama-sama teman yang lainnya dan menjalani hidup seperti biasa.

Beberapa tahun setelah kepindahan nanang itu, gue coba cari Nanang lewat Facebook. Gue merasa, Karena ngetrend harusnya semua orang punya Facebook. Keyword seperti ‘Nanang’, ‘Nananq’ sampai ‘N4nAnG5eH4tcElLaluh’ gue coba. Tapi gue ga pernah menemukan sosok Nanang di Facebook. Rumah kontrakan Nanang pun sekarang gue liat udah dihancurkan, karena digantikan bangunan yang lain. Begitupun lapangan yang biasa dipakai bermain. Entah apa yang terjadi sama kebun belakang rumahnya, tapi gue rasa semuanya juga sudah sama sekali berubah. Yang tersisa sekarang adalah ingatan-ingatan gue yang sedikit kabur, dan kenangan-kenangan yang memudar.

Tak terikat hingar bingar kehidupan kota. Part 1



Siapa yang akan menyangka bahwa manusia setampan gue adalah anak yang ‘cukup’ nakal sewaktu kecil dulu. Gue pernah sok berantem sama temen-temen, walaupun pada akhirnya gue yang nangis. Gue pernah mencuri ketela di kebun milik orang lain (Kalau di kebun sendiri namanya panen), kemudian merasa bersalah dan menanamnya kembali, menyiraminya secara rutin dan memberikan pupuk.
Ya kali.
Pernah juga gue jajan berlebihan sehingga orangtua menjadi sangat cerewet. Itu lah nakal versi gue, bagaimana versimu? Ehm.
           Adalah temen-temen gue, yang membuat gue menjadi seperti itu. I blame on you guys. Mereka berjasa sekali membentuk kepribadian dan perilaku gue sewaktu kecil, yang beberapa masih membekas dan sulit untuk diubah. Misalnya, makan soto sukanya pake tangan, ga pake sendok.
            Gue bersekolah di SDN Leuweungkolot 02. Nama yang cukup seram bagi orang yang tau artinya, dan sangat membuat lidah kelu tiap dekat kamu buat yang ga bisa bacanya.
You know me so well~.
Di Sekolah dulu, gue berteman dengan semua murid di kelas, tapi lagi-lagi cuma beberapa orang yang deket banget sama gue, salah satunya adalah Ricky. Dia adalah seorang dengan pembawaan yang cerdas dan berperawakan tinggi, gue selalu iri sama tinggi badannya. Pernah suatu ketika tinggi gue hampir setara dengan dia, namun beberapa waktu kemudian dia kembali meninggalkan gue dengan kependekan ini.  Kami sangat dekat waktu itu: berangkat bareng, pulang bareng, makan bareng, main game bareng sambil berduaan di depan monitor berjam-jam, dan ke mana-mana berdua. Sangat indah, tapi menjijikkan kalau dilakukan di umur gue yang sekarang ini.
Selain Ricky, ada murid-murid lainnya yang cukup dekat dengan gue seperti Fikri, Vickry (nama mereka serupa, tapi beda orang), Adam, Fajri, Nurul, Faisal, dan Egi. Gue seneng banget bisa sekelas sama mereka. Kelas yang sangat ideal, ada orang ganteng (gue) dan fansnya (teman-teman), ada yang cantik (cewek yang gue taksir) ada juga orang yang sering dibully. Tapi semua berubah ketika tiba-tiba di awal kelas tiga, warga kelas digemparkan oleh kedatangan seorang murid baru. Sebenernya bukan cuma dia yang pernah menorehkan sejarah dengan masuk ke kelas gue dengan status anak pindahan. Tapi dia adalah salah satu murid pindahan yang bertahan paling lama di sekolah ini dan menuliskan cerita paling banyak diantara murid-murid pindahan lainnya.
Anak pindahan itu terlihat kurus, tidak terawat, bajunya compang-camping matanya merah, dan giginya bertaring. Gue udah siap-siap menelepon polisi karena takut tiba-tiba dia berubah jadi manusia serigala. Ehm. Kalimat yang tadi gue bohong. Tapi dia memang kurus, berambut pendek dan matanya sedikit sipit. Tahi lalat timbul di atas bibir di bagian kiri. Raut wajahnya menyiratkan bahwa dia lumayan ramah untuk diajak berteman. Masing-masing dari kami tiba-tiba melakukan diskusi dengan teman sekitar. ‘Siapa ya itu?’ adalah sebuah pertanyaan umum kala itu.
Manusia berambut seperti baru tumbuh bernama Vickry yang telah lebih dulu mengenal anak tersebut, dengan jumawa berkata ‘Dia kan tetangga gue!’, suaranya cempreng dan nyaring menggema di ruangan kelas. Gue dan teman-teman yang duduk sebelahan dengan Vickry terkagum-kagum seraya bilang ‘waaw’ dan ‘oh iya?’ dengan mata berkaca-kaca. Teman-teman yang ada di kursi belakang kaget karena mengira suara cempreng itu adalah suara kambing, ‘mbeee!’
Vickry yang seakan mendapat sanjungan kemudian terkekeh-kekeh. Untung kami tidak bertepuk tangan. Karena kalau itu terjadi, mungkin Vickry akan melompati lingkaran api seperti lumba-lumba di Gelanggang Samudera, saking senangnya. Kalau diinget-inget, gue menjadi heran sekarang, kenapa waktu itu gue ikutan kagum. Apa yang keren dari orang yang mengenal murid pindahan yang ternyata adalah tetangganya sendiri?
Tidak lama kemudian, guru pun masuk ke kelas dan mempersilahkan anak tersebut untuk memperkenalkan diri.
‘Halo teman-teman’, Kata anak pindahan tadi.
‘Halo,’ Jawab kami serempak.
‘Perkenalkan, nama saya Nanang,’ katanya, grogi.
Kemudian dia kembali ke tempat tidurnya duduknya, dan dari situlah kejadian-kejadian baru yang seru dimulai.
Hari-hari berlalu, Kami semua menjadi dekat dan hampir mencapai level ‘sahabat’, sungguh waktu yang relatif singkat. Begitulah persahabatan ketika usia kita masih belia, kita dapat dengan mudah berteman asalkan orang tersebut baik dan bisa diajak main. Ribut juga paling cuma karena ‘Lo temenan sama dia? Gue kan ga suka!’ atau ‘Lo bau! Bau ketek!’, kemudian dalam waktu singkat kita baikan lagi. Tidak ada yang namanya unsur kepentingan dalam suatu pertemanan seperti yang terjadi ketika kita beranjak dewasa.
Nanang ternyata memang orang yang ramah. Gue dan teman-teman penasaran, serasa punya ‘mainan’ baru, selalu tertarik terhadap sesuatu yang ada pada Nanang. Kami pun menanyakan berbagai macam hal tentangnya, mulai dari ‘Kamu dari mana?’, ‘Dulu sekolah di mana?’, atau bahkan ‘Woy! Bagi duit atau gue tonjok!’, ehm oke, itu malak, bukan nanya.
Dia berasal dari Lamongan, dan sekarang tinggal di daerah Ciaruteun (Di mana itu? -_-), cukup dekat dari rumah gue. Jadi ga heran kalau sehabis sekolah, gue dan teman-teman suka main ke tempat Nanang. Dia tinggal di sebuah rumah kontrakan, rumah yang disewa tidak terlalu besar tapi nyaman dan para tetangga cukup bersahabat, sehingga tempat tersebut ramai dan seru, menurut gue.
Lokasinya sangat strategis, dekat dengan jalan raya dan di depannya terhampar pasir luas yang sering dijadikan tempat bermain sepak bola. Di lapangan itu sering diadakan kompetisi, dan anak-anak yang ada di lingkungan tersebut menjadi pesertanya. Di samping kanan rumah Nanang ada pohon-pohon rindang yang selalu menjadi tempat berteduh saat anak-anak kepanasan bermain bola. Di belakangnya terdapat berbagai macam pohon dan kebun yang menyejukkan hati, yang sekarang entah kemana. Hilang. Digantikan tembok-tembok bangunan.
Kontrakan Nanang dan rumah Vickry sangat dekat, mereka sering bermain bersama. Makanya ga heran, kalau kami ke tempat Nanang, Vickry pun selalu hadir. Bermain di rumah Nanang sangat mengenyangkan, Ibunya sangat baik dan selalu memberikan makanan yang lumayan banyak. Itu lah salah satu alasan kenapa kami selalu datang ke sana. Ngahaha. Biasanya, di rumah Nanang, kami bermain PS atau menonton DVD. Film yang kami tonton hanya terbatas pada Jurassic Park atau King Kong, dan kalau bosan kami akan bermain bola di lapangan depan rumahnya. Gue yang ga bisa tertarik bermain bola, cuma bisa melihat dari kejauhan.
Kalau itu semua belum bisa mengusir rasa jenuh, maka kami akan bersiap-siap membawa tas berisi air mineral, teropong, dan beragam ‘peralatan’ lainnya. Terinspirasi dari film Jurrasic Park, kami kemudian akan pergi keluar untuk ‘berpetualang’. Kami juga kadang meniru film king kong. Vickry yang jadi gorillanya.
Petualangan terbesar yang pernah gue dan temen-temen lakukan adalah ketika ada tugas dari Guru untuk mengumpulkan beberapa jenis batuan. Waktu itu, gue, Nanang, dan beberapa orang lainnya berkumpul di markas (Baca : Rumah Nanang). Jumlah kami waktu itu sekitar tujuh orang, gue lupa. Setelah berdiskusi, kami sepakat untuk mencari batuan di sebuah bukit dekat rumahnya. Dekat di sini relatif, sekitar 4-5 Km.
Gue inget, daerah yang kami tuju tersebut adalah tempat dimana gue dan temen-temen berkemah beberapa waktu sebelumnya. Banyak kejadian memalukan yang terjadi ketika itu. Seketika gue getir dan ketakutan kalau kalau teman-teman gue ada yang tau dan mengungkitnya kembali. Hal itu sangat rahasia, pemirsa. Tidak boleh diceritakan. Kami yang merasa ‘kuat’ dan merasa tempat itu dekat hanya menyiapkan satu buah botol air 600mL untuk bekal, dan semangat yang membara.
Tapi, Matahari kala itu sangat terik dan lebih membara. ‘kekuatan’ kami tidak terbukti, bung. Semangat saja pun tidak cukup. Belum setengah perjalanan, botol yang gue dan teman-teman bawa sekarang sudah kosong. Tidak mungkin kami mengisinya lagi dengan air di sungai atau air keran. Segoblok-gobloknya gue dan temen-temen, tentu kami tau resikonya. Bisa-bisa kami harus menghabiskan waktu untuk bolak-balik ke toilet. Siaga kuning.
Itu pun kalau ada toilet. Kalau ngga ada berarti kami harus meniru perilaku kucing: Menggali tanah, membuangnya, lalu mengubur semua jejak. Menghapus kenangan.
Bahkan sempat timbul pertentangan di antara kami. Civil War. Ada kubu yang ingin membatalkan perjalanan ini, ada juga yang bersikeras untuk menyelesaikan tugas yang mulia ini. Di umur yang masih belia, gue dan temen-temen harus merasakan kejamnya dunia luar dan harus bertahan hidup karena kegoblokan kami sendiri. Padahal kami sudah diajarkan berhitung. Bagaimana mungkin air 600mL dibagi ke 7 orang anak akan cukup untuk pulang pergi di suhu tinggi dan jarak yang jauh serta menanjak. ekstrem. Iya, gue anggap itu ekstrem. Lagipula, kami tidak pernah mendapatkan pelatihan survival di alam liar.
Tapi, entah bagaimana caranya gue dan temen-temen sampai di tempat yang kami tuju dan mengambil batu yang bisa kami temukan, batu apapun. Tidak peduli apa jenisnya. Bodo. Kalau bisa nemuin batu akik pun mungkin gue akan bawa dengan senang hati dan gue jual.

Pada hari pengumpulan, kami tidak mengerti batu jenis apa yang didapatkan karena waktu itu yang ada di pikiran gue dan temen-temen adalah air, laper, dan pulang.

Cloud Computing : Mencoba Web-App Service di Microsoft Azure (Part 1)


[Spoiler Alert!]
(Akan ada banyak gambar pada postingan kali ini, ikhlaskan kuota Anda. It could be the longest one, too)

Well, kita telah membahas tentang cloud computing pada beberapa post terakhir ini. Alangkah lebih baik apabila kita mulai mencobanya. Pada posting-an kali ini saya akan mencoba layanan WebApps yang dimiliki oleh Microsoft Azure. Saya masih baru dalam hal ini, dan apa yang akan saya lakukan hanyalah sebuah hal sederhana : Mencoba melakukan hosting landing page ke layanan Web Apps yang disediakan Micorosft Azure. Untuk yang ingin mengetahuinya, silahkan lanjutkan membaca keseluruhan post ini. Dan untuk yang sudah expert bisa langsung close tab Anda. 'Cause this is for beginner, dammit.

Peace. :)

Yang expert dan mau baca boleh juga sih. Anyway, untuk menghindari post yang terlalu panjang, saya akan bagi topik ini menjadi dua bagian.

PERSIAPAN

Sebelum memulai, pastikan Anda telah mengaktifkan akun dreamspark Anda. Jika belum punya, silahkan daftar terlebih dahulu dan aktifkan di link berikut ini : [klik] .  Jika Anda masih pelajar/mahasiswa, bisa daftar di menu students. Bisa juga menggunakan e-mail universitas Anda, karena dengan itu (Apabila universitas Anda terdaftar) akan membuat Anda bisa mendownload beberapa konten secara GRATIS. So what are you waiting for?

Oh ya, akun dreamspark Anda akan dihubungkan dengan Microsoft Account yang Anda miliki. Jadi, pastikan miliki Account Microsoft ya!

THE PROCESS

Setelah mendaftar, dan mengaktifkan akun dreamspark Anda. Anda bisa langsung mengakses : https://portal.azure.com , dan Anda akan diarahkan untuk melakukan log in (jika belum). Jika Anda telah berhasil log in, Anda akan diantarkan ke dashboard. Kira-kira beginilah dashboard dari Azure :




Tampilannya rapih dan intuitive, i think.

Nah, seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, kali ini kita akan mencoba layanan Web Appsnya untuk hal sederhana : "hosting". Oh ya, akun yang saya gunakan kali ini adalah akun student, sehingga beberapa layanan tidak bisa saya pakai. Pilihlah Web + Mobile, lalu pilih Web Apps.



Jika Anda baru membuka sebuah layanan, maka Anda akan diminta untuk melakukan subscription. Log in pada jendela yang dipop-up ketika Anda klik sign up, dan Pilih subscription plan Anda. Jika Anda menggunakan akun students, dan ada subsctiption plan untuk itu, maka Anda dapat memilihnya dan tidak perlu melakukan pembayaran (GRATIS).


Nah, jika sudah selesai, Anda dapat melihat ada yang muncul pada dashboard Anda. Klik marketplace (di dashboard saya bernama marketplace), lalu lakukan beberapa pengaturan seperti nama, subscription, dan service plan.







Setelah menunggu beberapa saat, akan muncul pemberitahuan apakah web app yang sedang Anda buat telah berhasil dideploy atau tidak. Jika telah berhasil, maka alamat web, alamat ftp, username, dan konfigurasi dasar akan dibentuk secara otomatis oleh Azure. Ketika itu juga Anda bisa mengakses laman yang Anda buat, kira-kira tampilan awalnya akan seperti berikut :



Tentu saja ini belum selesai, lalu apa yang bisa kita lakukan mulai dari titik ini?
Lihat di post selanjutnya.






Finally, I Got This!



Yo Whatsup?

It's been way too long, sejak terakhir kali saya post di blog ini. Mungkin hampir 1 (satu) tahun. Jadi begini ceritanya..



Saya mengikuti sebuah program dari Microsoft : [klik].  Saya tertarik karena melihat banyak yang bisa didapatkan, tentu dengan melihat apa yang bisa saya berikan pula melalui program ini. Sebenarnya lebih ke arah "penasaran". But I think it's gonna be exciting. Selain itu, mencoba hal baru tidaklah buruk. Lalu diputuskanlah, saya mendaftarkan diri.

Selang beberapa hari (mungkin pekan), Rio, teman saya, mengingatkan tentang pengumuman dari seleksi tahap pertama (Administrasi). Setelah cek e-mail, ternyata lolos. Alhamdulillah. Pada tahap ini, peserta yang lolos diminta untuk melakukan self-learning salah satunya adalah belajar melalui portal pembelajaran milik Microsoft : Microsoft Virtual Academy : [klik]. Sejujurnya saya baru tahu kalau Microsoft memiliki portal pembelajaran seperti itu. Di sana, banyak sekali courses yang tersedia. Saya cukup menyarankan Anda untuk mencobanya.

Batas pengerjaan self-learning adalah tanggal 20 Maret. (Hari ini anyway). Dan saya menerima e-mail itu sekitar pertengahan Februari. Memang sudah bakat sebagai penunda, saya membiarkan waktu berlalu sampai saya tak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena kurikulum di kampus yang cukup berat (bagi saya), dan tugas yang tak kunjung henti, ad infinitum, saya belum menyentuh courses yang ada di MVA.

Namun, kesempatan tak akan datang dua kali (dalam bentuk yang sama persis), maka dari itu saya bulatkan tekad lagi, saya coba ingat lagi alasan saya mengikuti program ini. Saya pikir, membiarkannya terbengkalai akan mengkhianati rasa penasaran saya yang sejak awal terpantik. Lalu, saya coba menyelesaikannya. Ini cukup sulit anyway, dan akhirnya saya mendapatkan ini!

 

Up to this point, saya masih menunggu akan belajar apa lagi. Semoga semakin menarik


Cloud Computing Explained




source : www.syntax.com

Semua orang berbicara tentang cloud.  Pergeseran dari model software tradisional ke internet telah mendapatkan momentumnya. Istilah cloud sedang populer beberapa tahun terakhir. Rutinitas keseharian kita di rumah, kantor dan kampus,  berubah karenanya. Proses bisnis sedikit demi sedikit kita pindahkan ke cloud. Microsoft mengkampanyekan "To the cloud!". Kita juga sudah sering mendengarkan Apple berbicara tentang iCloud-nya.

Kehidupan Sebelum Cloud Computing

Dalam tiga dekade terakhir, salah satu trend dalam proses komputasi - mainframe system yang terpusat dan berukuran besar--  telah berakhir dan digantikan dengan PC. Sebelum personal computer hadir di awal 1980an, jika perusahaan ingin melakukan perhitungan penjualan atau pembayaran, maka hal lebih disukai adalah membeli jasa "data processing" dari perusahaan lain. Hal itu terjadi karena sistem komputer yang memiliki kemampuan perhitungan tersebut cukup mahal. Namun hari ini, kita dapat melakukannya di PC. 

Apa itu Cloud Computing?

Apa sebenarnya cloud? atau, di mana cloud? Istilah cloud sebenarnya hanyalah metafora untuk internet. Namun cloud benar-benar ada! Namun bukan seperti cloud (awan) yang kita lihat setiap hari, cloud dalam istilah IT tinggal dalam tempat mewah, dan sangat dingin. Jauh dari tempat bencana(banjir) dan bahkan jalur terbang pesawat. Disimpan dalam beberapa blok kantor atau warehouses. Microsoft misalnya, menyimpan data-datanya di US, walaupun mereka juga memiliki data centre di Dublin. Tweet yang kita kirim setiap hari, tinggal di Twitter server di Sacramento, California, dan Atlanta, Georgia.

"The cloud goes beyond simple storage," kata Greg Mason. "Cloud computing offers both data hosting and applications, so consumers are free to access this from anywhere."

Ya! Cloud computing mengizinkan kita untuk mengakses data dan program dari computing environment yang kita miliki. Layanan tersebut disediakan oleh vendor-vendor cloud computing dan diakses melalui internet. Data-data dan perangkat lunak, di simpan dalam cloud. Contoh terdekat yang selalu kita pakai adalah search engine seperti Bing, atau Google. Kita memasukkan query ke dalam mesin pencari, lalu mendapatkan hasil pencarian yang kita inginkan. Komputer kita tidak melakukan banyak hal, selain hanya sebagai penyampai dan penerima pesan. Kata kunci yang kita masukkan ke dalam kolom mesin pencari dikirimkan dan diproses oleh ribuan dari clustered PCs, dan setelah hasilnya didapatkan, dikirimkan kepada kita. Sistemnya mungkin bisa disamakan dengan "outsourcing" beberapa kebutuhan yang kita inginkan kepada penyedia layanan seperti Microsoft, dan Google. Kita tidak perlu tahu di mana data tersebut disimpan,  biaya untuk mengembangkan perangkat lunak yang dijadikan layanan, memastikan tetap up-to-date, dan sebagainya.

Tipe-tipe Cloud Computing

Ada beragam jasa yang disediakan oleh para vendor cloud computing, seperti :

a. Infrastructure as a Service (IaaS)

            Pernahkan Anda menggunakan WebHosting? atau layanan lain seperti dropbox, dan google drive? Ya, kita membeli akses ke hardware milik penyedia melalui internet, sebagai server atau tempat penyimpanan. Kita membayar apa yang kita butuhkan. Kira-kira seperti itulah IaaS.

b. Software as a Service (SaaS)

           Microsoft office online, atau Google Documents barangkali merupakan contoh yang paling mudah diketahui. Pada SaaS, kita dapat menggunakan aplikasi yang berjalan pada system milik orang lain, dan kita mengaksesnya melalui internet.

c. Platform as a Service (Paas)
          
          Platform as a Service memungkinkan kita untuk mengembangkan aplikasi menggunakan tools berbasis web yang berjalan pada system software dan hardware miliki penyedia jasa cloud computing. Salah satu contoh PaaS adalah Microsoft Azure (akan saya bahas di posting berikutnya).

Cloud computing, sama seperti konsep-konsep lainnya, memiliki keuntungan dan kerugian. Apa saja keuntungan dan kerugian yang dimiliki oleh cloud computing? Saya akan membahasnya di post berikutnya.


Pesan dari sebuah Pesan Singkat




Liburan yang panjang ini memang membuat gue menjadi seorang yang semakin malas. Biasanya,  kalau liburan seperti ini, setelah shalat shubuh gue akan tidur lagi. Selain ngantuk dan ga ada kerjaan, gue merasa tubuh gue meminta ganti rugi karena jatah tidurnya terganggu selama empat bulan belakangan. Dekapan yang erat dari kasur nan empuk, dan selimut yang terbentang luas menghangatkan tubuh memang menjadi magnet yang kuat di setiap pagi yang gue jalani.

Di suatu hari, tepat jam delapan pagi, alarm yang gue sudah siapkan di handphone berbunyi. Gue pun bangkit.
Untuk mencegah diri gue tertidur kembali, gue meraih handphone yang berada di samping kasur dan mengecek apakah ada yang penting hari ini, atau sekedar cek social media, barangkali ada berita yang menarik.

Tiba-tiba saja inbox gue kedatangan selembar pesan baru. Tidak disangka-sangka, ternyata pesan itu dikirim oleh seseorang nun jauh di sana, temen SMA gue, sebut saja dia Rima (ini nama asli). #lah
'Feb lu dimana? Gua udh otw', kata Rima singkat. Seketika bayangan berkelabat gue kaget. 'Ada acara apa ya?', 'Temen-temen mau ke kost gue?', 'Rima mau ngapain ke sini?', 'dia ngajak gue ke mana?', 'emang kita pernah janjian?', 'jangan-jangan dia mau ngejebak gue, dan kalau ketemu gue akan dipaksa bayar utang?'. Kepala gue langsung dipenuhi oleh beragam pertanyaan, dan seinget gue, gue ga ada utang tuh sama Rima. Karena penasaran, gue langsung nyari laptop dan menancapkan modem. Gue akses semua sosial media, terutama Line. Bisa jadi mereka merencanakan ini dan gue ga tau, karena gue juga jarang banget buka line. Tapi pas gue cek kok kosong dan isinya cuma gossip dan obrolan seputar 'kenapa febi ganteng?' atau 'kapan meet and greet lagi sama febi dan anggota agillovers?' . Ngga, itu bohong. Btw, beneran di line ga ada apapun. ((apapun)) yang membuat gue ngerti apa maksud dari pesan itu. Clueless. Daripada gue hanya menduga-duga, gue pun akhirnya membalas pesannya.
'Ini lo ngirim ke siapa?', kata gue.
'ke elu lah emang lu udh nyampe mana?', balas Rima.
Penguin salto, tikus terbang, gajah bersayap. gue semakin bingung. Gue ngerasa ga ada janji apapun hari ini, apalagi sama seorang Rima. Rima gitu. Gue kan di Bandung, dia di Bogor. Terus ada acara apa gue hari ini sama dia? kan kampret.
'Jangan bilang lu masih dirumah', Rima terus mencecar gue yang bahkan belum membalas sms sebelumnya.
Kata 'dirumah' ini memang sangat ganjil karena gue tidak tinggal di rumah seperti yang Rima maksudkan. Sepertinya pesan ini bukan buat gue.
eureka! akhirnya gue menemukan titik terang. Sepertinya makhluk ini salah orang. Nama Febi kan bukan cuma gue.
'Lo salah kirim kali', gue mencoba meluruskan.
'Emang ini febi apaan?', Rima bertanya.
Buset dah. Ini maksud dari pertanyaannya apa ya? Febi apaan tuh semacam, 'ini hewan apaan?', atau 'ini tanaman apaan?', tapi
gue mencoba berprasangka baik dengan menganggap pertanyaan itu menjadi 'Emang ini febi yang mana?'.
'Ini gya mau nganterin puzzle ke elu', Rima mengirim sms yang tidak nyambung.
Gue bingung di pesan itu dia mau coba ngomong apaan. 'Ini gya mau nganterin...', gya apaan?! gaya? Sungguh typo yang sangat dahsyat. Setelah merenung, gue coba menerka maksudnya. Mungkin seharusnya begini : 'Ini yang mau nganterin...'. Tapi tetap tidak nyambung, bodo. Lagipula gue ga pesen puzzle dalam bentuk apapun.
Karena gue semakin bingung dan ingin menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin, gue langsung bilang aja 'Ini Febi Agil'.
'Ohh hahahaa .. sorry lu febi yang salah, maaf maaf ga konsen gua', balas Rima, alay.
Sontak gue kaget dibilang 'lu febi yang salah'. ((salah)). Salah di mana gue? gue kan baru aja bangun tidur, dan ga tau apa-apa -_-

Pesan 1 : Kalau punya beberapa teman yang memiliki nama yang mirip, bedakan dengan jelas. Kalau kalian punya teman bernama Agus, tiga orang. Jangan simpan dikontak dengan format : Agus, Aguss, Agusss. Iya, siapapun itu. Paling-paling nanti akan lupa beneran yang mana Agus yang dimaksud. Jangan juga menggunakan format : Agus1, Agus2, Agus3. Sumpah ya, ini ngga banget. Hindari format-format semacam itu. Atau kalian akan kebingungan nantinya. Format yang baik adalah yang mengandung informasi lain. Bisa sekolah, kampus, tempat tinggal, atau apapun. Anggap aja ketiga Agus ini ada di tempat kerja yang berbeda. Nah, lo bisa pake format <tempatkerja> Agus. Misal : PangkasRambutBintang Agus, GorenganLezat Agus, SnowWash Agus. Sekarang udah bisa bedain dengan jelas, kan?
Kalau kejadian kaya gue di atas kan jadinya pesan yang ingin kita sampaikan ke pihak yang bersangkutan malah nyampe ke pihak lain, dan urusan kita bakal ketunda. Repot.

Setelah permintaan maaf Rima, gue pun bilang ke dia kalau gue agak keganggu.
'Maaf atuh yaa .. itung itung olahraga aja', kata Rima.
Maksud lo apa Rim? Ga nyambung. 'itung itung olahraga aja' itu kata-kata yang membuat gue menjadi pengen bilang: 'I'll slap you with seratus ribuan, rim.'
'Olahraga apaan?', dengan bodoh gue malah membalas pesan yang tidak nyambung dengan balasan seperti itu.
'Yaudah mau olahraga apaan kek terserah elu', balas Rima.
'Aneh banget', kata gue.
'Kok aneh sih, lu kan tadi bilang olahraga apa, ya mana ga tau kalo gua bilang suruh maen bola kan siapa tau lu lagi ga dilapangan', Rima berpidato.
Apakah anda mengerti saudara-saudara, apa yang dimaksud Rima? Sama, gue juga ga ngerti. Ini kok malah gue yang dimarahin ya? dan kenapa dia bawa-bawa kata 'bola' dan 'lapangan' ? Ajaib.
'Lo tau kan lagi smsan sama siapa?'. Balas gue.
*anyway ini nadanya ngga kaya, 'Lo ga tau lagi berhadapan dengan siapa, hah?!', ya*
Gue membalas seperti itu karena gue pikir dia salah kirim lagi.
'Iya iya gua tau gua lagi smsan sama Febi Agil Ifdillah yang suka tanda tanganin buku catetan gua'. Rima ngomel-ngomel.
Gue bersyukur dia ga salah kirim kali ini. Oh iya, gue jadi ingat, dulu gue sangat humble dan selalu memberikan tandatangan di buku catatan milik fans gue. Di satu halaman penuh. Gue dedkasikan tanda tangan itu. Ga cuma buat Rima, tapi buat SETIAP fans.
Tapi tiba-tiba...
'Feb lu dimana? Lama bnget jalannya', Rima mengirim pesan.

*hening*

Iya, dia kembali tidak nyambung dan salah kirim. Gue menyerah.

Pesan 2 : Pilihlah teman yang baik, yang berguna, tidak menyebalkan, dan tidak seperti Rima. Caranya? Sebelum berikrar untuk berteman satu sama lain, pastikan kalian udah bertanya 'Lo ga jedotin kepala di trotoar, tembok, atau sejenisnya, kan?'. Ya, simple.

Sepertinya itu saja yang bisa gue tulis kali ini di blog ga jelas ini, Terimakasih! :D

Asiknya SMA




Banyak banget hal yang membuat gue jatuh cinta sama sekolah. Terutama temen-temen, iya.. temen-temen, gue ga akan betah tanpa mereka.
Ngomongin masa-masa SMA memang ga akan ada abisnya. Di SMA, gue ketemu banyak banget orang, dan gue berteman sama banyak orang. Tapi layaknya manusia biasa, cuma beberapa orang yang membuat gue nyaman waktu ngobrol dan kumpul bareng sama mereka.



Temen-temen gue sangat berpengaruh dalam kehidupan gue. Ada yang bikin gue semangat sekolah, karena gue ga mau kalah dari mereka. Ada yang bikin gue semangat buat berwirausaha.. walaupun ujungnya, ehm, belum berhasil. Ada yang bikin gue ketawa terus, tanpa henti, sampe sekarang. Sangat beragam jenisnya. Siapa aja mereka?

1. Fadli Ramdani

Ini salah satu role model gue, sampe sekarang.
Pertama kali gue ketemu dia, gue tidak menemukan pandangan selain 'Ini orang pasti bakal jadi penguasa di sekolah, apakah gue akan ditindas?'. Dia punya wajah yang sangat sangar (waktu itu), dan bergaya ala preman, cuma dia ga botak dan berkumis lebat. Gue selalu menjaga ucapan gue ketika didekatnya. Tapi istilah "Don't Judge the Book by Its Cover" berlaku. Gue salah sangka, temen gue yang satu ini punya etos belajar yang baik, terutama di pelajaran memuakkan seperti matematika. Dia bahkan ikut olimpiade, dan di semester pertama kuliah, dapet penghargaan langsung dari dekan fakultasnya karena prestasinya. #ProkProk
Orang ini punya ambisi yang luar biasa, karena gue ga mau kalah, gue jadi ikut-ikutan rajin belajar.
Dan sang preman kini jadi temen baik gue. Sampe sekarang gue masih sering banget ketemu dia, sekarang dia mengabdi di Asrama KP. Sungguh Mulia :)

2. Fachmi Amarullah

Manusia berbadan besar seperti patrick ini orangnya kocak. Dan badannya ga berwarna pink. Dia salah satu ahli kimia di sekolah, terkenal pada zamannya. Padahal seinget gue, dia ikut remedial bareng-bareng gue pas awal ujian kimia di sekolah. Bedanya, gue ga sepinter dia. Jadi saat dia sudah lolos dan justru mencintai kimia, gue tetap tersesat dan remedial lagi. Dia, layaknya orang-orang bijaksana sejenisnya, selalu menjadi tempat bertanya manusia-manusia yang hilang arah... karena kimia.
Fachmi ini pecinta musik, terutama musik metal. Belakangan ini dia insyaf dan handphonenya penuh dengan lantunan ayat suci. Terharu gue..
Tapi dia tetep gaul dan menjadi Drummer di salah satu band sekolah.

3. Rizky Fadillah

Gue ga tau mau ngomong apa, Rizky ini orang yang sangat baik. Rela menganggap hutang-hutang lunas dan sangat loyal. Huahaha. Dia temen sebangku gue, orangnya kalem, jadi kalau gue ngomong dia jarang motong pembicaraan dan selalu jadi pendengar yang setia. Dia juga sering jadi temen curhat gue, dan orangnya sangat asik. Sama seperti Fadli, first impression gue tentang orang ini juga sangat amat salah. Dari tampangnya, gue kira dia anak bandel.
Setelah perjumpaan gue dengan Fadli dan Rizky, gue menganggap orang yang tampangnya gahar adalah orang yang baik dan asik. Tapi waktu ketemu preman dan sok asik sama mereka, gue malah digampar.
Kalau gue lihat lagi sekarang, tidak ada tanda-tanda wajah sangar dari Rizki. Mungkin dia sudah jinak. Oh iya, dia penggemar Ronaldinho. (Terus?)

4. Bukhori Muslim

Dari namanya aja, kita semua harusnya udah tau sifat manusia yang satu ini seperti apa. Dia dianggap 'ustadz' di kelas. Orangnya memang sangat sholeh.  Kebetulan, dia tiga tahun bareng gue di kelas, dan beberapa lama jadi temen sebangku. Bukhor (sebutan orang-orang) atau Buchor, memang punya tingkah laku yang aneh yang sering banget jadi becandaan temen-temen di kelas. Dia pecinta bola dan punya fisik yang sangat kuat, boleh lah diadu sama hulk. Denger-denger sih, dia akan muncul di film The Avengers yang ke-tiga nanti. Coming Soon..

5. Farin Rizki

Farin ini berasal dari dunia lain, dunia yang sangat jauh dan tak tergapai oleh manusia. Dia berangkat ke sekolah saat orang lain masih terlelap, dan ga boleh pulang terlalu sore atau dia tidak akan kembali ke dunianya, Gobang, itulah nama tempatnya. Karena ada Internet di sekolah, pantangan untuk tidak pulang terlalu sore di sekolah pun sering dia langgar. Dia terus saja mendownload secara brutal setiap hari, dan terpaksa menginap di rumah makhluk sebangsanya yang dekat dengan sekolah. Dia adalah seniman di kelas. Karena bakatnya dalam seni sangat luar biasa, gue ajak dia buat berbisnis iklan di Internet (Lho?). sampe akhirnya kita gagal dan move on dengan membuat clothing line. Farin ini partner bisnis yang kece badai lah.

6. M. Afriza Adha

Awal perjumpaan gue sama Afriza adalah ketika kelas 11. Gue ga terlalu deket (waktu itu) sama dia, sampe akhirnya, ga tau kenapa dia jadi salah satu temen terbaik gue di SMA. Dia laki-laki yang ganteng, tapi jomblo. Sorry ya za, gue harus bilang ini, biar publik tau.
Gue ga tahu sekte apa yang dia anut, sehingga menyia-nyiakan sumberdaya (wajah) yang dia miliki. Dia orangnya asik dan kocak. Setelah kegagalan bisnis iklan gue sama farin, gue juga mengajak dia untuk bikin clothing line. Dalam darah afriza mengalir darah-darah artist, jadi dia jago ngegambar juga. Tugas akhir pelajaran Kesenian di SMA juga gue buat sama dia. Nih :




Bareng afriza, gue nyoba banyak hal termasuk bikin short film. Lebih mirip dengan video anak-anak SMA yang lagi stress sih. Tapi ga apa-apa, anggap aja pengalaman.
Afriza juga salah satu pendiri JCC (Jogging Cool Club). What the.. ? Oke, aneh emang namanya. Tapi nanti gue jelasin.

7. Adytia Gumelar

Adit, begitu sebutannya. Manusia paling ribut dan gokil di abad ini. Gue kenal dia dari SMP, bisa dibilang lebih dari setengah dekade gue mengenal wajahnya. Gue tidak bisa menggambarkan makhluk seperti apakah Adit ini. Sungguh, gue ga mampu.
Intinya, menjauhlah kalau lo ketemu orang ini, menjauhlah anak muda. Dia bisa menyerang lo dengan zat asam yang keluar dari keteknya. Dia adalah aktor utama di setiap short film yang kami buat. Kebayang kan seperti apa jadinya short film yang dibintangi oleh manusia dengan ketek yang beracun? Gue ga akan bagi link youtubenya, dan gue sarankan, jangan ditonton. (Tapi kalau lo maksa, pm gue aja. ehm).
Bersama Afriza, adit juga menjadi pendiri JCC dan sekaligus menjadi 'coach'-nya. Haha. Dia juga jago main basket. Belakangan ini gue menarik kesimpulan bahwa mungkin keterampilannya dalam bermain basket, ada hubungannya dengan serial anime Kuroko no Basuke yang dia tonton. Iya, dia (mungkin) melatih skillnya setiap hari dengan meniru adegan-adegan di anime itu. Makanya ga aneh, waktu main basket dia sering bergaya dan berbicara ala tokoh-tokoh di anime tersebut. "Hajimemashite, watashi wa Adit desu, douzo yoroshiku!",  (Bahasa Indonesia : Perkenalkan, saya adalah Adit. Senang berkenalan dengan Anda), begitu lah kira-kira apa yang dia katakan dengan semangat yang bergelora sambil men-shoot bola, (mungkin di kepala Adit, artinya akan menjadi : Rasakan Shoot Rajawali milik gue(Adit) ini!). Sering juga dia bilang "Itadakimasu!" sambil men-dribble bola, seakan-akan hendak menyantap bola basket bulat-bulat. Ajaib, ga ada nyambung-nyambungnya sama sekali memang. Mungkin sekarang lo akan bertanya-tanya, "Apa benar di dunia ini hidup manusia semacam itu?", Ya kali..
Oke, lupakan Adit, anggap aja Adit hanya ilusi.. ini saatnya gue ceritain JCC. JCC (Jogging Cool Club) ini muncul karena hobby kami buat jogging tiap hari minggu pagi mengelilingi kampus IPB. Bosan dengan hanya jogging, kami kemudian bermain basket secara terus menerus dan tanpa henti setiap selesai berjogging. Gue ngerasa gue sangat kuat waktu itu.. karena bareng mereka, gue berolahraga rutin hampir 5 jam sehari, setiap hari minggu. 
Dalam perjalanannya, JCC sudah banyak bertanding dadakan dengan tim-tim yang mereka jumpai di lapangan basket. Mereka pernah menang, secara sangat mengejutkan sebanyak satu kali. Mendapatkan hasil seri dengan beberapa tim dengan penuh keberuntungan, dan sudah selayaknya untuk kalah secara terus menerus, sampai kemudian mereka bubar karena tidak tahan dengan kekalahan beruntun yang mereka derita. Ehm, oke. Ga usah dilanjut cerita tentang JCC.

8. Diki Ismawan

Ini dia, makhluk yang rela berkorban buat perusahaan. CFO (Chief Financial Officer)-nya Paper Pepper... gue, Afriza, dan Farin menganugerahkan gelar itu, demi kepentingan bersama. Biar dia terus mengalirkan uang ke 'perusahaan' kami. Huahaha.
Tapi diki ini orangnya emang baik, gue ga tega ceritain kocaknya dia. Kenapa gue sangat bersimpati? karena orang-orang banyak yang nge-bully diki demi mendapatkan kesenangan. Sungguh kasihan. Tapi sekarang, gue liat dia upload foto-foto di Instagram dan Fb. Dia udah dapet banyak temen ternyata.. :D Alhamdulillah.
Gue sangat inget kalau dia terpaksa jadi first-buyer di clothing line gue dan kawan-kawan. Waktu itu gue menawarkan ke diki, dan ajaibnya dia mau aja beli, dengan syarat design dia yang atur. Oke, enak sekali pemirsa. Setelah sepakat dengan harga baju tersebut,  gue, Afriza, dan Farin kebingungan karena bener-bener ga tau gimana caranya bikin baju. Bego banget kan gue, nawarin barang yang ga bisa gue bikin/dapetin. 
Tapi setelah bersusah payah, terwujudlah baju pertama Paper Pepper, selesai sudah baju sakti pesanan Diki yang sangat-lama jadinya itu. Tapi dia cukup puas, katanya. Wow, bersejarah sekali. Dari situ akhirnya kami sedikit demi sedikit menyusun singgasana Paper Pepper, walaupun akhirnya... kembali belum berhasil. Karena kita terpaksa harus berpisah untuk menggapai impian masing-masing.

Nah, itu dia beberapa orang yang sangat deket sama gue di SMA. Sebenernya temen gue bukan cuma mereka, terlalu banyak orang baik yang gue kenal dan terlalu banyak buat diceritain di sini #tsah.
Karena mereka, gue ngerasain perasaan yang gue sebut 'Asiknya SMA'.
Ada yang punya temen baik juga di SMA? yok monggo dishare di kolom komentar.
Cukup sekian postingan kali ini, Terimakasih!

Note : Cerita tentang Adit berbicara bahasa jepang, adalah Rekayasa.

Jangan Kuliah!


Di malam ini, gue yakin anak-anak SMA yang daftar SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) lagi ada dipuncak kegalauannya. Kenapa? Karena besok adalah salah satu hari yang (gue jamin) bakal lo inget seumur hidup. Saran gue sih, berdoa aja, mudah-mudahan itu rezeki lo. Dan buat yang belum keterima, lo bisa berjuang lagi di SBMPTN. Selamat berjuang, anak muda! #Hormat
Tiba-tiba gue jadi pengen ngomongin kuliah. Pandangan setiap orang tentang kuliah pasti beragam. Siapa sih diantara kita yang ga mau kuliah? Pasti ada aja. Gue ga mau menyalahkan pilihan itu, karena setiap orang punya kehendak buat nentuin arah hidupnya. Orang yang memutuskan buat berkuliah punya alasan masing-masing. Ada yang mau cari cewek, ada yang mau cari hiburan, ada yang mau cari temen, ada yang cuma iseng, ada yang nyari temen-iseng, temen-hiburan, cewek-iseng, cewek-hiburan, dan ga jarang bahkan ada yang bener-bener berniat buat cari ilmu… #ProkProk. Tapi sekalian cari cewek, iseng, dan hiburan juga.
Orang yang memutuskan buat ga kuliah juga punya alasan tersendiri. Mulai dari alasan seperti ‘Nanti lulus kuliah juga nyari-nyari kerja juga, sama aja’ sampai ke alasan-alasan yang lainnya. Beberapa bakal gue dukung di post “Jangan Kuliah!” ini.  #HA
Itu semua bergantung kepada sang empunya alasan. Dan banyak banget situasi yang mempengaruhi keputusan lo buat ga kuliah. Setelah melakukan riset, gue dapetin beberapa situasi yang membuat lo jadi ga mau kuliah. Kira-kira apa aja sih situasi-situasi yang membuat orang ga mau kuliah?

1. Ga mau kuliah

Ini situasi dimana seseorang bener-bener ga mau kuliah. Wow, informatif sekali, kawan.
Bombastis.
Oke, Biasanya orang yang ada dalam situasi ‘Ga mau kuliah’ ini, bakal susah buat dirayu. Dia tau kalau kuliah bakal bermanfaat buat dia, tapi hatinya sudah sangat mantap dengan keputusannya. Bahkan sampai kepala desa menyelenggarakan sayembara ‘Bujuk dia kuliah’ pun, dia tetap ga bergeming. Jadi, buat para orangtua, tetangga, supir, tukang kebun dan teman-teman yang mencoba membujuknya untuk berkuliah, bersabarlah. Orang ini seratus persen gue dukung. Sumpah, beneran, jangan kuliah!
Jangan kuliah kalau lo ga mau kuliah. Karena sesuatu yang lo paksakan, ga baik juga.

2. Ga suka jurusan

Lo udah niat mau kuliah, tapi keterima di jurusan yang sama sekali ga lo ketahui. Apalagi yang ga lo senangi. Misal lo keterima di jurusan Teknik Pengendalian Ketombe, padahal lo ga seneng di situ. Ini sering terjadi, saudara-saudara. Ini sering terjadi. Di SNMPTN, banyak banget orang yang kelempar ke sana-ke mari, terombang-ambing, hilang arah, dan membutuhkan jabatan tangan kita. Karena diterima di jurusan yang ga dia senangi. Salah sendiri sih, saat kita dikasih kesempatan yang enak, harusnya kita pilih dengan bijak. Pilih jurusan yang lo sukai, begitupun untuk pilihan ke-dua dan ke-tiga. Jadi mau diterima di pilihan ke berapa pun, lo tetep menikmati kuliah. Terus gimana kalau udah terlanjur? Saran gue sih, Jangan Kuliah!
Jangan kuliah di tempat yang ga lo sukai, pernah denger kalimat semacam ‘Apa yang lo suka, belum tentu baik, Apa yang lo ga suka, belom tentu ga baik buat lo’. Oke, terus kenapa banyak banget orang yang bela-belain pindah dari satu jurusan ke jurusan lain? Atau dari fakultas ke fakultas lain? bahkan ikut SBMPTN(lagi). Kuliah ini bukan cuma masalah ini baik atau ngga baik, tapi proses bagaimana lo menjalaninya #tsaah. Percuma kalau lo ga suka di situ, akhirnya jadi setengah-setengah. Kecuali lo orang yang mau menerima terus mencoba buat suka, kemudian menikmatinya. Tapi kalau kondisi belum membaik, segeralah melambaikan tangan, dan ikut SBMPTN (Sayembara Bersama Mantan Pergi ke Tempat Nongkrong).

3. Takut Sendirian

Saat lo diterima di perguruan tinggi, apalagi yang jauh dari tempat tinggal. Lo pasti bakal jauh dari orangtua. Di sana lo akan dibina oleh alam. Ditemani hewan-hewan liar. Dan seleksi alam akan berlangsung. Apakah lo akan selamat? Kita tunggu kelanjutannya.
Gue sempet ngalamin susahnya jauh dari orangtua, bahkan sampe sekarang, gue sangat kesusahan. Yang paling susah menurut gue adalah mengatur waktu, biasanya gue diingetin dan dipantau sama orangtua. Sekarang diingetin tapi ga terpantau. Liar lah gue…
Gue juga mengalami masalah dalam mengatur pengeluaran(uang). Gue masih inget ketika mau minta duit ke orangtua, gue harus push-up 100 seri dan mecahin batu pake gigi. Ya kali. Intinya, dulu pengeluaran gue masih sedikit diatur sama orangtua, dan terkontrol dengan apik. Tapi sekarang, gue bebas, sampai terlalu gegabah membelanjakan uang. Astaghfirullah.
Kesusahan-kesusahan semacam itu membuat beberapa orang jadi enggan buat kuliah. Intinya sih, takut sendirian. Sampe lo bener-bener berniat buat ga takut sendirian, dan mau menerima resiko jauh dari orang tua, gue saranin, Jangan (dulu) kuliah!
Yang ada kalau lo tetep nekat pergi kuliah, 5-6 hari lo udah mulai stress sendiri karena ketakutan.

4. Ga Mau Susah

Hebat sekali orang semacam ini, bung. Belum merasakan seperti apa itu kuliah, dia udah tau kalau kuliah itu susah. :D Oke, orang dengan kondisi semacam ini, biasanya tau kalau ‘kuliah itu susah’ dari informasi yang dia dapatkan. Bisa lewat cerita orang-orang yang udah pernah merasakan kejamnya dunia perkuliahan, bisa juga lewat internet, atau bahkan informasi dari agen-agen rahasia yang dia sebar merata ke setiap kampus di seluruh Dunia. Iya, seluruh dunia. Demi mendapatkan informasi ‘Apakah kuliah susah’.
Saran gue, Jangan (dulu) Kuliah!
Hmm, ngga gitu juga sih. Saran gue, buat yang satu ini.. coba lo pikirin lagi deh, emang ga kuliah, hidup lo jadi ga susah ya?. He he. Oke, lanjut…

5. Mau Langsung Kerja

Banyak banget orang yang setelah lulus SMA/STM/SMK/sederajat pengen langsung kerja. Alasannya beragam. Ada yang pengen langsung ‘bahagiain orang tua’, pengen ‘ngasih gaji pertama ke orang tua, cepet-cepet’, sungguh mulia.
Gue ga menyalahkan keputusan lo buat langsung cari kerja, dan gue bakal setuju sekali, jangan kuliah!
Jangan kuliah kalau lo mau cepet-cepet kerja..
Anyway, sebenernya lo bisa kerja sambil kuliah sih, dan setelah lulus kesempatan dan peluang buat kerja juga jadi lebih besar. Ehm.

6. Pengen (langsung) Nikah

Wohoo. Siapa coba yang ga mau nikah? Gue rasa semua orang punya naluri yang sama, ingin dicintai dan mencintai #tsaah. Biasanya, situasi ‘pengen (langsung) nikah’ ini banyak diderita oleh kaum hawa. Iya, perempuan. Oke, fine. Kalau gitu, jangan kuliah!
Jangan kuliah (dulu) kalau lo pengen (langsung) nikah. Tapi kalau setelah nikah lo mau kuliah, monggo..


Nah, itulah beberapa situasi dan alasan yang membuat orang ga mau kuliah. Sesuai janji gue sebelumnya, gue dukung. :D
Tapi, alangkah bijaknya kalau kita memutuskan sesuatu secara beralasan. Menurut gue, dengan berkuliah, kita dapat membuka kesempatan-kesempatan baru yang ga bisa kita dapet kalau kita ga kuliah. Kesempatan seperti apa? Misalnya, relasi. Di tempat kuliah kita bakal ketemu sama banyak orang. Di sana kita bisa menjalin pertemanan sampai ke mitra kerja. Bukan berarti ga punya relasi kalau ga kuliah, lo tetep bisa dapet relasi kok.
Kesempatan yang lainnya adalah, kompetisi. Kita semua tahu, kompetisi yang sehat membuat kita menjadi semakin baik. Kita menjadi bersemangat untuk memperbaiki diri. Di perguruan tinggi, kita dilatih buat berkompetisi, juga memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Jadi, buat lo yang udah memutuskan buat ga kuliah. Itu sudah keputusanmu, kapten! Dan buat yang sudah yakin akan berkuliah. Udah sangat mantap, dan mau menerima semua resikonya… Welcome to the jungle! :D